12/01/2026

Bengkayang Post

Cerdas Ungkap Realitas

Panglima Mian Jaga Hutan Purba Bentuk Nyata Melestarikan Adat & Budaya Dayak

Share

Bengkayang Post-(Bengkayang). Cerita tentang keramat Gunung Batu  Mali yang terletak di Dusun Insang, Desa Semade, Kecamatan Banyuke Hulu, Kab.Landak tak lekang dimakan waktu.

Suasana sakral makin kontras karena Batu Mali diselimuti hutan purba. Tempat dan  sejarah peradaban masyarakat tinggal sebagai wilayah yang punya nilai spiritual tinggi.

Marselinus Mian pada waktu itu (Jum’at 26/12/2025) menggelar ritual di bukit Batu Mali. Pada Acara pelaksanaan ritual hadir  Panglima Ringing, Panglima Gibson serta rombongan asal Serawak dan Bentulu Malaysia, 

Ketika Marselinus Mian menuturkan cerita tentang sejarah Bukit Batu Mali, Ia menyampaikan, bahwa Mali berasal dari bahasa masyarakat  setempat. Arti kata Mali adalah pantang.

“Batu Mali bukan mitos, bukan dongeng tapi kenyataan. Ini adalah bukti nyata tentang budaya dan kearifan lokal. Di tempat kita berdiri ini kami bangun Panyugu. Mksud didirikan Panyugu agar keasliannya tetap terjaga,” ucap Marselinus Mian.

Mian sapaan akrabnya meminta semua yng menghadiri acara untuk melihat di sekeliling hutan Batu Mali bahwa sebagian hutan sudah punah, yang masih tersisa dan harus di jaga hanya di sekitar bukit.

Dibawah  kaki bukit Batu Mali dimana kita berdiri sekarang hampir punah kalau tidak di jaga, hanya tersisa beberapa pohon kayu yang berumur kurang lebih ratusan tahun, “bukti dan saksi bisu sejarah,” ungkap Marselinus Mian.

Menurut cerita, Sungai Satona saat itu masih di gunakan sebagai akses transportasi, konon pada waktu itu ada rombongan Kerajaan Mempawah beserta rajanya hendak menuju Kraton Ngabang.

Rombongan itu menggunakan kapal kecil, lengkap dengan Meriam dan peralatan perang lainnya. Mereka  hendak melewati wilayah Padapura Ria Mambang dan Ria Pudu, menurut cerita disampaikan Marselinus Mian, Saat itu di Desa Semade akan ada acara gawai.

Seorang ibu pergi ke hutan melewati tepi Sungai  mencari daun untuk keperluan pesta gawai warga Semade. Sengkonyong-konyong mendengar gonggongan Anjing yang tiada hentinya.

Ketika ibu itu sampai dirumah, peristiwa yang terjadi disampaikan kepada masyarakat setempat. Setelah dilihat ternyata  Anjing  itu berada di wilayah Padapura Ria Mambang dan Ria Pudu, menggongong perahu Raja Mempawah yang berubah wujud jadi batu.  

Hingga saat ini (26/12), Keramat Batu Mali tetap harus di jaga, karena Batu Mali merupakan tempat spritual sekaligus simbol dan identitas serta jati diri bagi Masyarakat Desa Semade,” pungkas panglima Mian, sembari menutup acara ritualnya di Bukit Batu Mali. Penulis : Gultom. Editor Pimred.


Share